Selasa, 11 Juli 2017
Dibaca: 19882
Pertanyaan :
THR Natal Bagi Pekerja yang Mengundurkan Diri di Akhir Tahun
Apabila seorang staf yang sudah bekerja selama dua tahun ingin mengundurkan diri sesuai Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 yakni dengan batas waktu 30 hari pada bulan berjalan di akhir tahun, apakah staf tersebut berhak mendapatkan Tunjangan Hari Natal sedangkan staf tersebut dalam proses pengunduran diri dan apa dasar hukumnya?
Jawaban :

Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul “Pengunduran Diri” yang dibuat oleh Shanti Rachmadsyah, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada Selasa, 19 Oktober 2010.

 

Intisari:

 

 

Pekerja/buruh yang hubungan kerjanya berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu dan mengalami pemutusan hubungan kerja terhitung sejak 30 hari sebelum Hari Raya Keagamaan, berhak atas THR Keagamaan.

 

Ini artinya, jika pemutusan hubungan kerja “di akhir tahun” yang Anda katakan tersebut setidaknya terjadi masih dalam waktu 30 hari sebelum hari raya Natal pada 25 Desember, Anda masih berhak atas THR.

 

Melihat dari masa kerja Anda, Anda berhak atas THR sebesar satu bulan upah.

 

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak ulasan di bawah ini.

 

 

 

Ulasan:

 

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

 

Hak Pekerja Atas THR

Tunjangan Hari Raya (“THR”) Keagamaan diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan (“Permenaker 6/2016”).

 

THR Keagamaan adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh Pengusaha kepada Pekerja/Buruh atau keluarganya menjelang Hari Raya Keagamaan.[1]

 

Pada dasarnya, THR merupakan hak bagi semua pekerja/buruh dalam hubungan kerja, baik karyawan kontrak (PKWT) maupun karyawan tetap (PKWTT), yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus atau lebih. Hal ini sesuai ketentuan dalam Pasal 2 Permenaker 6/2016 yang berbunyi:

 

(1)  Pengusaha wajib memberikan THR Keagamaan kepada Pekerja/Buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus atau lebih.

(2)  THR Keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Pekerja/Buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan Pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu.

 

Cara Menghitung Besaran THR 

Cara menghitung besaran THR yaitu:[2]

a.    Pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan sebesar 1 (satu) bulan upah;

b.    Pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus tetapi kurang dari 12 bulan, diberikan secara proporsional sesuai masa kerja dengan perhitungan:

 

masa kerja x 1 (satu) bulan upah

12

 

Ini artinya, Anda yang telah memiliki masa kerja selama 2 (dua) tahun berhak mendapat THR penuh sebesar satu bulan gaji.

 

THR Bagi Karyawan yang Resign (Mengundurkan Diri)

Kemudian, kami akan berfokus pada poin pertanyaan Anda lainnya yaitu tentang bagaimana pembayaran THR jika pekerja berniat resign (mengundurkan diri) dengan batas waktu 30 hari pada bulan berjalan di akhir tahun, yang mana hari raya Natal jatuh pada 25 Desember setiap tahunnya. Untuk menjawab ini, kami mengacu pada Pasal 7 ayat (1) Permenaker 6/2016:

 

Pekerja/buruh yang hubungan kerjanya berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu dan mengalami pemutusan hubungan kerja terhitung sejak 30 (tiga puluh) hari sebelum Hari Raya Keagamaan, berhak atas THR Keagamaan.

 

THR Keagamaan berlaku untuk tahun berjalan pada saat terjadinya pemutusan hubungan kerja oleh Pengusaha.[3] Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi Pekerja/Buruh yang hubungan kerjanya berdasarkan perjanjian kerja waktu tertentu, yang berakhir sebelum Hari Raya Keagamaan.[4]

 

Ini artinya, jika pemutusan hubungan kerja “di akhir tahun” tersebut setidaknya terjadi masih dalam waktu 30 hari sebelum hari raya Natal pada 25 Desember, Anda masih berhak atas THR. Ini berarti Anda berhak atas THR sebesar satu bulan upah.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.



[1] Pasal 1 angka 1 Permenaker 6/2016

[2] Pasal 3 ayat (1) Permenaker 6/2016

[3] Pasal 7 ayat (2) Permenaker 6/2016

[4] Pasal 7 ayat (3) Permenaker 6/2016

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Justika.com adalah terknologi terbaru hukumonline yang bekerja sebagai pusat informasi yang mempertemukan antara pencari bantuan hukum dan para profesional hukum dibidangnya masing-masing.

Temukan profesional hukum sesuai dengan permasalahan anda didalam jaringan justika.com
MITRA : Bung Pokrol
Tri Jata Ayu Pramesti mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi).